Loading...
Sunday, 8 February 2015

Tingkatkan Daya Saing Hadapi Pasar Global, Dubes RI Tekankan Arti Penting ASEAN Connectivity

Menghadapi pasar global yang semakin kompetitif, ASEAN harus meningkatkan daya saingnya dengan membangun konektivitas baik di darat, laut dan udara. ASEAN dapat belajar dari RRT yang maju pesat berkat perhatian yang begitu besar terhadap pembangunan infrastruktur  sehingga produk-produk RRT mampu bersaing di pasar global.

ASEAN yang terintegrasi tidak saja akan semakin menguatkan kohesi intra ASEAN, tapi juga akan memberikan manfaat yang besar bagi peningkatan kesejahteraan rakyat di kawasan ini. Indonesia pun mencermati keberhasilan pembangunan RRT yang ditopang infrastruktur yang kuat dengan mengeluarkan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Demikian penjelasan Dubes RI untuk RRT merangkap Mongolia, Imron Cotan, ketika menjawab pertanyaan salah seorang peserta Program Defense and Strategic Studies Course (DSSC) National Defense University (NDU) pada kuliah umum dihadapan 76 perwira senior angkatan bersenjata dari 46 negara (ASEAN, Asia Selatan, Afrika, Eropa dan Amerika Latin).

Pandangan Dubes RI tersebut didukung sepenuhnya oleh Dubes RRT untuk ASEAN, Mdm Tong Xiaoling, yang juga diundang sebagai pembicara lainnya dalam kuliah umum tersebut. Dikatakan bahwa RRT akan mendukung Master Plan on ASEAN Connectivity dan proyek-proyek ASEAN-China Connectivity 

Dalam paparan kuliah umum, Dubes RI juga menekankan arti penting dan strategis mengenai perlunya ASEAN dan RRT untuk bekerjasama secara tandem dalam menghadapi situasi dunia yang dapat dikatakan kurang menggembirakan akibat krisis ekonomi di AS dan Eropa serta situasi di Timur Tengah dan Afrika Utara yang masih diliputi ketidakpastian akibat transisi sosial-politik yang masih terus berlanjut.

Dunia karenanya menaruh harapan pada Asia yang kini dipandang sebagai the most dynamic and performing economy in the world. RRT menunjukkan performa ekonomi yang fenomenal sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia dengan cadangan devisa melebihi US$ 3 trilyun. Pada sisi lain, ASEAN, sebagai bagian dari kawasan Asia Pasifik, pun menunjukkan performa ekonomi yang meyakinkan dengan total GDP US$ 1,8 trilyun dan penduduk berjumlah sekitar 600 juta.

Dubes RI menggarisbawahi pentingnya kemandirian ASEAN dalam menghadapi situasi dunia yang terus berkembang dinamis dan penuh ketidak-pastian. Perkembangan ini pula yang mendorong keyakinan dan visi para pemimpin ASEAN untuk mempercepat terbentuknya ASEAN Community yang semula dijadwalkan pada tahun 2020 menjadi tahun 2015.   
 

Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan konstruktif, isu lain yang mendapat perhatian besar para peserta adalah isu Laut China Selatan (LCS) dan kehadiran kembali AS di kawasan Asia Pasifik. Mengenai LCS, baik Dubes RI maupun Dubes RRT untuk ASEAN sependapat bahwa mengingat kompleksitas permasalahan, isu LCS tidak dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Karenanya, langkah terbaik agar tetap terjaga stabilitas di kawasan ini adalah dengan mengembangkan kerjasama yang menguntungkan semua pihak. 

0 comments:

Post a Comment

Mangga... Komentarnya gan?

 
TOP