Loading...
Tuesday, 5 May 2009

Santri dan Wayang Golek

Yosep Lesmana*
Sebuah polemik yang terjadi di dalam kehidupan kita terkadang tidak terlihat. Seperti hubungan antara santri dan Wayang Golek. Mungkin apabila ditarik benang merah antara kehidupan santri dengan kehidupan manusia, khususnya Santri itu sangat berhubungan. Tetapi sering terjadi konflik dan kontroversi antara ke-halalan dan haramnya menonton atau mendengar wayang golek, mungkin saya tidak akan membahas masalah itu. Yang akan dibahas disini adalah kenapa Santri cenderung tertarik dengan Wayang Golek. Bahkan banyak yang sudah menduduki kedudukan sebagai Ustadz atau Kiyai yang dulunya sebagai santri (Salaf), bahkan ada yang benci tapi rindu dengan Wayang Golek. Bahkan banyak keterangan dan penjelasan yang tidak didapat dari penjelasan secara harfiah dan maknawiah di pesantren tetapi dibahas dan dijelaskan di Wayang golek, menurut penuturan seorang Santri.
1. Wayang Golek
Mungkin kita akan sedikit menggali tentang sejarah wayang golek, dan apa itu wayang golek.
Asal-usul
Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun 'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro. Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi, seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek.
Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).
Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19. Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.
Jenis-jenis Wayang Golek
Ada tiga jenis wayang golek, yaitu: wayang golek cepak, wayang golek purwa, dan wayang golek modern. Wayang golek papak (cepak) terkenal di Cirebon dengan ceritera babad dan legenda serta menggunakan bahasa Cirebon. Wayang golek purwa adalah wayang golek khusus membawakan cerita Mahabharata dan Ramayana dengan pengantar bahasa Sunda sebagai. Sedangkan, wayang golek modern seperti wayang purwa (ceritanya tentang Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam pementasannya menggunakan listrik untuk membuat trik-trik. Pembuatan trik-trik tersebut untuk menyesuaikan pertunjukan wayang golek dengan kehidupan modern. Wayang golek modern dirintis oleh R.U. Partasuanda dan dikembangkan oleh Asep Sunandar tahun 1970--1980.
Pembuatan
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih, prada, dan hitam.
Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan. Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat". Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung. Isinya antara lain sebagai berikut: Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya. Dua: Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku. Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat. Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat. Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan bangsa. Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.
Dalam catatan sejarah kemunculan wayang golek semasa Kerajaan Pajajaran ada dua fungsi yaitu
1. untuk upacara ritual yaitu untuk ruwatan
2. untuk hiburan
Wayang golek untuk ruwatan dipakai pada ruwatan rumah, anak, nanggung bugang ( seorang adik yang kakaknya meninggal dunia ), surambi ( 4 orang putra), pandawa lima ( 5 putra ), pandawi ( 5 putri ), talaga tanggal kausak ( seorang putra diapit 2 putri ) samudra hapit sindang ( seorang putri diapit 2 putra ) yang sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat yang mempercayainya.
Wayang Golek untuk hiburan dipergunakan untuk upacara dan perayaan khusus seperti khitanan, perkawinan, perayaan karawitan , hari jadi , hari-hari besar dan penyambutan tamu- tamu negara. wayang golek yang dikenal kita dalah wayang golek purwa , wayangnya terbuat dari kayu menyerupai bentuk manusia yang disebut golek oleh karna itu disebut wayang golek. Ada 2 macam wayang golek di tatar Sunda : wayang golek papak( cepak ) / wayang golek menak dan wayang golek purwa . wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer di masyarakat . lakon- lakon wayang golek memiliki lakon galur dan carangan yang semuanya bersumber dari cerita ramayana dan Mahabrata. Pembawa cerita disebut Dalang sekaligus pemimpin pertunjukan menyuarakan anatwacana , mengatur gamelan, mengatur lagu dll. wayang golek purwa memakai bahasa Sunda , karawitan pengiringnya berlaras salendro yang terdiri dari waditra dua saron , satu peking, satu salentem, satu bonang, satu rincik, satu perangkat kenong, sepasang goong * kempul goong ) dan seperangkat kendang ( satu indung 3 kulanter ) , gambang, rebab, wira suara ( juru alok ), sinden . Kemunculan sinden dalam wayang golek sekitar tahun1920an pada sekitar tahun 1960an yang terkenal diantaranya adalah Upit sarimanah, Titom Patimah sedangkan dalang yang terkenal diantaranya : R.U . Partasuanda, Abah sunarya, Entah Tiryana, Apek Tarkim, Asep Sunandar Sunarya, ade Kosasih, Dede Amung, Cecep Supriyadi dll. Pertunjukan Wayang golek biasanya ditempat terbuka dengan memakai panggung yang ditinggikan ( balandongan ) sehingga penonton dapat melihat satu arah dan berkonsentrasi pada pertunjukannya.
2. Santri
Entah siapa yang mengatakan, bahwa kata santri berasal dari bahasa Inggris. Yaitu sun dan there, yang berarti tiga matahari. Saya belum pernah mendengar seseorang yang memaknai kata itu secara eksplisit. Namun, saya berpikir, bahwa mungkin yang disebut tiga matahari tiada lain adalah rukun agama, dimana tiga unsur itu wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Tiga rukun itu yaitu, Iman, Islam dan Ihsan. Dalam hal ini, saya mengindikasikan bahwa seorang santri pantas dan seharusnya memiliki tiga rukun iman tersebut dan terpatri di dalam dirinya.
Dengan demikian, kewajiban identitas santri adalah seorang yang memiliki keimanan yang kuat, dan hidupnya seiring dengan ajaran Islam serta mengindahkannya. Kemudian, dari keduanya jika telah terpatri dalam diri santri maka akan melahirkan sikap dan perilaku yang baik (Ihsan). Tentu sudah menjadi kewajiban moral bagi seorang santri hidup dengan ke’arifan Islam sebagai cerminan dari keimannya.
Setiap santri adalah muslim, namun tidak semua muslim dikatakan santri. Pembahasan tentang muslim—orang yang sudah masuk Islam—terlalu luas jika diidentikan dengan santri. Karena, hukum sosial telah menyudutkan pengertian santri sebagai orang yang mengaji dipesantren atau rajin mengaji dimasjid. Kalaupun ada celetusan yang mengatakan bahwa setiap muslim adalah santri, itu syah-syah saja dalam segi konteks. Namun, secara tekstual pengertian santri adalah orang-orang yang mengaji atau belajar ilmu agama pada sebuah lembaga pendidikan Islam—pesantren, baik tradisional ataupun modern. Kendati demikian, rupanya fleksiblitas pesantren mengikuti arus modernisasi tidak bisa dihindarkan, realitas objektif menunjukan adanya transformasi pesantren dari corak pesantren klasik (salafiyah) menjadi corak pesantren modern. Sehinngga orientasipun berubah, ada santri abangan yang mengaji di pesantren salafiyah dan santri intelek yang mengaji di pesantren modern.
Dalam konteks itu, apapun istilah santri entah itu abangan atau intelek yang pasti keduanya mempunyai sisi identik, yaitu dakwah. Dakwah bagi seorang santri merupakan kewajiban moral, sebagai identitas dari kekhasanya. Di zaman sekarang, seorang santri tidak diindikasikan sebagai orang yang selalu memakai kopiah, pakaian muslim lengkap dengan sarung, leher dililit oleh sorban atau lain sebagainnya. Sebab, jika dilihat dari sisi itu, maka santri modern mayoritas sulit dibedakan dengan masyarakat nonsantri. Dengan demikian, cirri khas santri di era modern sejatinya dengan retorika berdakwah. Apapun tema yang disampaikan santri dalam orasinya yang pasti esensinya harus berbau nilai-nilai religi.
Jika kewajiban moral santri berdakwah, maka kewajiban lembaga pesantren terhadap santri harus bisa mengajarkannya retorika dakwah yang baik. Dengan demikian, identitas seorang santri tidak akan hilang. Santri modern lebih mengidentikan santrinya terhadap intelektualitas. Sedangkan santri abangan tidak mengenal intelektualitas, namun ciri khas retorika dakwahnya akan membahas esensi permasalahan dari satu titik sehingga dakwahnya rinci dan tajam. Berbeda dengan santri modern, ia akan menjabarkan suatu permasalahan dengan lebar, dibidik dari berbagai disiplin ilmu. Jadi, kendati mereka santri tetap saja dalam retorika dakwahynya bisa diindikasikan berbeda. Toh, kalaupun dari segi minoritas ada gaya berdakwahnya yang sesuai, gramatika misalnya.
Apabila dilihat secara gambaran diatas maka sangatlah jauh hubungannya. Bahkan sebagian orang mengatakan bahwa wayang golek itu Haram, saya mengutip dari sebuah perkataan seorang dalang kondang, “Jadi haram, apabila kau makan, pasti nyangkut di tenggorokan” begitu kata kang Asep Sunandar dalam sebuah pertunjukannya. Namun yang mengherankan justru penulis pun menyukai wayang golek itu semenjak masuk pesantren atau bisa dibilang ketika mulai menjadi santri.
Pada awalnya hanya sebatas ingin tahu si cepot yang katanya suka bercanda, namun lama-kelamaan justru malah jadi sebuah hobby. Bukan karena jenakanya si cepot, tetapi juga karena muatan-muatan penjelasan terhadap sebuah dalil. Para dalang mengupas habis dalil-dalil secara langsung penerapan terhadap kehidupan sehari-hari. Banyak sekali contohnya. Selain itu wayang golek salah satu media penyampai inspirasi dan keresahan rakyat. Mungkin karena alas an itu kenapa santri ada kaitannya dengan wayang golek.

Sumber :
- http://uun-halimah.blogspot.com/2008/06/wayang-golek-jawa-barat.html (Nisfiyanti, Yanti. 2005. “Wayang Media Sosialisasi Nilai-Nilai Budaya pada Masyarakat Sunda” (Laporan Hasil Penelitian)
- http://bandungkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=328&Itemid=219
- http://cinta-syamsudin.blogspot.com/2008/11/santri-dan-dakwah.html

0 comments:

Post a Comment

Mangga... Komentarnya gan?

 
TOP